Selasa, 23 April 2013

Tulisan 1, Kesehatan Mental (Tugas 2)


Kepribadian yang sehat
Apa itu kepribadian yang sehat? Dapatkah kita semua menjadi seorang pribadi yang sehat? Sebagai orang yang awam tentunya sangat tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Mungkin kita sampai saat ini belum mengetahui seperti apa kepribadian yang sehat. Berikut adalah berbagai kutipan untuk kita bisa mengetahui apa itu kepribadian yang sehat.
Sejumlah orang di Amerika serikat banyak menyelidiki, mencari, dan menyingkap diri batiniah (dan badan) mereka dalam sensitivity session, T-groups, dan sejumlah encounther therapy lainnya. Para penjahat, pedagang, pecandu obat bius, mahasiswa, guru, anak kecil, orang tua, sampai dewasa bahkan orang gemuk maupun kurus menemukan potensi pengalaman kepribadian mereka yang tidak pernah disadari bahwa mereka memilikinya.
Inti dari kutipan diatas adalah menemukan dan merumuskan suatu kepribadian yang lebih sehat. Fokusnya kearah apa seseorang akan menjadi bukan kearah apa yang telah terjadi. Banyak ahli-ahli psikologi memandang masalah ini kedalam ranah psikologi pertumbuhan dengan teori aliran humanistik, yaitu seseorang yang digambarkan bukan seperti teori aliran psikoanalisis yang selalu melihat ketidaksadaran mereka. Dan bukan seperti mesin layaknya teori dari aliran behaviorisme.
Humanistic memandang individu sebagai suatu organism yang tersusun secara baik, teratur, dengan banyak spontanitas, kegembiraan dan kreativitas. Gambaran ahli psikologi ini merumuskan tentang kodrat manusia adalah selalu optimis dan penuh dengan harapan. Mereka percaya kapasitas kita untuk memperluas, mengembangkan dan memenuhi diri kita dengan kemampuan yang kita miliki. Sehingga menurut mereka manusia mempunyai suatu tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang diperlukan melampaui “normalitas” mereka dapat merealisasikan atau mengaktualisasi diri mereka sendiri melihat dari potensinya. Dengan kata lain, tidak cukup hanya dengan bebas dari sakit secara emosional, dan tidak berperilaku psikotis (gila) untuk menilai seseoang sebagai pribadi yang sehat.
Kita tidak dapat mengetahui secara pasti apa itu kepribadian yang sehat karena masih terdapat sedikit penyesesuaian pendapat yang ada di banyak ahli psikologi yang memandang aliran ini. Disini akan dijelaskan melihat kepribadian yang sehat melalui tokoh tokoh seperti Gordon Allport, Carl Rogers, Abraham Maslow, dan Erich Fromm. Intinya kepribadian sehat adalah tergantung dengan bagaimana cara kita menjadi sesuatu menurut kemampuan yang telah kita miliki.

1)   Gordon Allport dalam ciri-ciri kepribadian yang matang.


Allport mengemukakan ada tujuh criteria kepribadian yang matang, berikut adalah tujuh kriterianya:
a.   Perluasan Perasaan diri
Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mulanya diri berpusat hanya pada individu. Kemudian ketika pengalaman bertumbuh terus maka diri meluas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abtsrak. Inilah yang dimaksud dengan orang-orang yang matang. Ia mengembangkan perhatiannya diluar diri..
b.   Hubungan diri yang hangat dengan orang lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam berhubungan dengan orang lain yaitu kapasitas keintiman dan kapasitas perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis bisa memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang terdekatnya seperti orangtua, partner kerja, dan teman akrab. Yang dihasilkan adalah perasaan perluasan diri yang berkembangan dengan baik.
Ada perbedaan antara hubungan cinta orang yang neurotis dengan hubungan cinta kepribadian yang sehat. Orang neurotis menerima banyak cinta daripada kemampuan mereka memberinya. Mereka memberi cinta dengan syarat dan kewajiban yang bersifat timbale balik. Sedangkan cinta orang sehat adalah cinta tanpa syarat dan tidak mengikat.
Kapasitas terharu adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat menerima kelemahan-kelemahan manusia, sedangkan orang neurotis tidak.
 d. Keamanan emosional
Kepribadian yang sehat mampu menerima emosi-emosi manusia. Mereka dapat mengontrol emosi mereka, sehingga tidak mengganggu aktivitas antar pribadi.
c.   Persepsi realistis
Orang yang sehat memandang diri mereka objektif. Mereka menerima realitas dengan apa adanya. Sedangkan orang yang neurotis mengubah realitas sesuai dengan keinginannya.
d.   Keterampilan dan tugas-tugas
Orang yang sehat dan matang adalah orang yang mampu mengarahkan keterampilan pada pekerjaan mereka.
e.   Pemahaman diri
Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis. Orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memilki wawasan diri yang kurang.
f.   Filasafat hidup yang mempersatukan
Orang yang sehat melihat kedepan, didorong oleh tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang ini mempunyai perasaan akan tujuan dan member kontinuitas pada kepribadian mereka.
Sumber:
Schultz, Duane.1991. Psikologi pertumbuhan (Model
Kepriadian sehat). Yogyakarta: Kanisius
Allport, G. 1960. Personality and social encounter.
Boston: Bacon Press 

2) Orang yang berfungsi sepenuhnya oleh Carl Rogers

Menurut carl rogers setiap anak pada masa kecil pasti memiliki self concept (gambaran diri). Ini terbentuk akibat reasi anak dengan orang lain. Dengan mengamati reaksi orang lain terhadap tingkah lakunya, anak mengembangkan gambaran-gambaran diri yang konsisten. Cara-cara khusus bagaimana diri berkembang dan menjadi sehat atau tidak tergantung cinta yang diterima ketika masih kecil.
Rogers menyebutnya sebagai positif regards atau penghargaan positif. Self concept juga sangat dipengaruhi oleh ibu. Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah laku yang baik. Karena anak mengembangkan ini maka anak akan menginternlisasi sikap ibu.
Anak harus menghindari tingkah laku atau pikiran dalam cara yang menyebabkan celaan atau penolakan oleh standar yang diambil oleh anak dari ibunya. Karena tingkh laku yang salah menyebabkan anak merasa tidak berharga. Rogers menegaskan diri adalah dalam dan luas, karena diri itu mengandung semua pikiran dan perasaan yang mampu diungkapkan orang itu. Diri itu juga fleksibel dan terbuka kepada semua pengalaman baru. Intinya semua orang bebas ntuk mengaktualisasikan diri mereka untuk mengembangkan potensinya. Dan setelah aktualisasi berlangsung, orang itu dapat menjadi orang yang berfungsi sepenunya.

Sumber:
Schultz, Duane.1991. Psikologi pertumbuhan (Model
Kepriadian sehat). Yogyakarta: Kanisius 

3)   Hierarki kebutuhan hingga mencapai aktualisasi diri oleh Abraham Maslow

Abraham maslow dikenal sebagai pelopor psikologi aliran humanistic. Maslow percaya manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teori yang paling terkenal adalah hierarki of needs atau hierarki kebutuhan. Latar belakangnya kemunculan hierarki ini adalah pengalaman hidup dan keluarganya. Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan kuat untuk merealisasikan potensi dalam dirinya. Maslow memberikan focus penelitiannya kepada manusia yang sehat bukan terhadap manusia yang bermasalah.Puncak pengalaman terjadi jika seorang manusia bias menyeimbangkan dirinya dengan lingkungan.
       
Maslow menggunakan piramida sebagai visualisasi teorinya tentang hierarki kebutuhan. Menurut maslow manusia termotivasi untuk memenuhi segala kebtuhan dalam hidupnya. Semua kebtuhan ini terkandung dalam sebuah tingkatan (hierarki) dari mulai yang rendah atau bersifat fisiologis dasar sampai yang paling tinggi atau bersifat aktualisasi diri. Berikut hierarki kebutuhan tersebut:
1.    Kebutuhan fisiologis atau dasar
2.   Kebutuhan akan rasa aman
3.   Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4.   Kebutuhan untuk dihargai
5.   Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kebutuhan fisiologis adalah tingkatan paling dasar (basic needs) menurut maslow yang meliputi kebutuhan akan makan, udara, minuman, dan sebagainya. Jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang ekstrem maka orang tersebut akan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena kapasitasnya dipusatkan untuk kebutuhan basic needs ini.
Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi muncul kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan ini berhubungan dengan jaminan kemanan, stabilitas, perlindungan, bebas dari rasa cemas dan takut. Karena ada kebutuhan ini maka manusia membuat undang-undang, membuat sistem, pension dan sebagainya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akan muncul sifat-sifat yang negative.
Setelah kebutuhan akan rasa aman dipenuhi, maka timbul kebutuhan untuk dimiliki dan disayangi. Setiap orang pasti ingin memiliki hubungan yang akrab dan nyamanbahkan mesra dengan orang lain. Ingin sekali mencintai dan dicintai. Jika seseorang tidak memiliki keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan orang yang pengganguran merasa tidak berharga. Kondisi ini menurunkan harga diri orang tersebut.
Selanjutnya setelah kebutuhan akan dimiliki dan disayangi terpenuhi maka akan muncul kebutuhan akan harga diri. Pertama adalah kebutuhan akan kekuasaan, kompetensi, dan percaya diri. Kedua adalah kebutuhan akan penghargaan, status, dan kebanggaan. Orang yang terpenuhi akan kebutuhan harga diri akan percaya diri dan tidak bergantung dengan orang lain.
Selanjutnya setelah harga diri dipenuhi muncullah kebutuhan untuk aktualisasi diri. Kebutuhan ini saling mengisi satu sama lain. Jika kebbutuhan ini tidak terpenuhi akan muncul sikap kebosanan, apatisme, dan keputus asaan.
Sumber:
Schultz, Duane.1991. Psikologi pertumbuhan (Model
Kepriadian sehat). Yogyakarta: Kanisius

4)  Ciri-ciri kepribadian yang sehat oleh Erich fromm
Menurut erich fromm manusia adalah makhluk social. Berdasarkan hal tersebut, salah satu ciri kepribadian ang sehat adalah kemampuan untuk hidup pada masyarakat social. Masyarakat sangat penting peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang merupakan hasil dari proses social.masyarakat sangat penting sekali untuk membentuk kepribadian.
Menurut fromm ada 5 watak social dalam masyarakat: 1. Penerimaan, 2. Penimbunan, 3. Penjualan, 4. Pemerasan, 5. Produktif. Yang benar sehat dari kelima watak ini adalah produktif karena watak ini didorong oleh cinta dan akal budi yang dapat membantu perkembangan pribad dan masyarakat. Lalu, Fromm menyebut 5 tipe yang berbeda tentang cinta, yaitu cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotic, cinta diri, dan cinta ilahi. Menurut beliau cina sangat penting untuk membangun dunia yang lebih baik sebab dicari oleh seluruh masyarakat.
Intinya pribadi yang sehat menurut  Fromm adalah pribadi yang mampu hidup dalam masyarakat social yang ditandai dengan hubungan-hubungan yang manusiawi, diwarnai oleh solidaritas penuh, cinta, dan tidak saling merusak atau menyingkirkan satu dengan yang lainnya. Tujuan hidup seseorang pribadi adalah keberadaan dirinya itu sendiri, bukan pada apa yang dimiliki, pada apa kegunaannya dan fungsinya.
Berikut adalah ciri-ciri kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm: mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk social dalam masyarakat, mampu mencintai dan dicintai, mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu, mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya, memiliki watak social yang produktif, mampu bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
Sumber:
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: 
Kanisius
                Schultz, Duane.1991. Psikologi pertumbuhan (Model
Kepriadian sehat). Yogyakarta: Kanisius

Kamis, 28 Maret 2013

PERTUMBUHAN PERSONAL

tulisan 3



Manusia dilahirkan sebagai sebuah kertas putih, bersih dan suci, kemudian kertas itu lama-kelamaan akan berisi tinta yang penuh dengan warna. Warna tersebut bisa gelap ataupun terang, tergantung manusia tersebut mengisinya. Makna warna itu adalah sebuah perjalanan cerita yang diciptakan antara manusia dengan manusia lain atau antara manusia dan lingkungan sosialnya.
Setiap individu pasti akan mengalami sebuah pembentukan karakter. Pembentukkan karakter setiap orang pasti berbeda tidak ada yang sama persis. Karakter seseorang dipengaruhi oleh pola asuh dan lingkungan sosial disekeliling orang tersebut. Pembentukkan karakter memerlukan proses yang amat panjang dan rumit. Proses tersebut dinamakan pertumbuhan. Faktor utama yang dapat mempengaruhi pembentukkan karakter adalah keluarga. Kenapa? Karena keluarga adalah lingkungan terdekat, utama dan tempat seseorang dibesarkan dari kecil sampai sekarang. Tanpa adanya keluarga, seseorang tidak akan pernah bisa berkembang dengan baik dan pasti akan menimbulkan karakter yang kurang baik. Ada banyak faktor-faktor yang akan mempengaruhi perkembangan pertumbuhan individu. Faktor tersebut dibedakan menjadi dua tipe yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik juga terbagi lagi menjadi beberapa subbab.
Pertama adalah faktor keturunan. Sifat, watak, dan karakter seseorang tidak jauh dengan sifat, watak dan karakter kedua orangtuanya. Kedua, sifat karakter ini tetap dan tidak akan berubah disepanjang kehidupan. Kenapa tetap? Karena pemebentukkan karakter terjadi secara alamiah, tidak dibuat-buat dan sudah pasti melekat hingga akhir hayat. Walaupun tidak sedikit orang yang dapat merubah karakter, tetap saja karakter tersebut tidak akan hilang secara besar. Artinya walaupun orang tersebut berusaha untuk merubah, pasti akan ada saja beberapa karakter yang mirip seperti dahulu. Ketiga adalah membentuk beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, warna mata, warna rambut, sikap tubuh dan sebagainya.
Selanjutnya faktor eksternal atau lingkungan. Faktor ini sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan manusia baik dari saat baru lahir hingga lanjut usia. Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan terjadinya potensi karakter. Sedangkan yang kurang baik akan menghambat terjadinya karakter.

SUMBER: Yusuf, Syamsu, LN. (2004). Mental Hygiene. Bandung:
                          Pustaka Bani Quraisy
                Gerungan. W.A. psikologi sosial.  (2004) Bandung:
                          PT Refika Aditama

ine lestiani - 13511627 - 2PA01

PENYESUAIAN DIRI & PERTUMBUHAN

TULISAN 3






Apa sih penyesuaian diri? Tentunya banyak sekali diantara kita yang familiar mendengar kalimat tersebut. Penyesuaian diri dialami oleh semua manusia, baik itu tua maupun muda. Tanpa adanya penyesuaian diri kita tidak akan hidup dengan normal. Penyesuaian diri adalah konsep yang dideskripsikan sebagai adaptasi atau pertahanan diri agar bisa terus berkembang dan dapat menyeimbangkan diri dengan tuntutan sosial dan norma dalam masyarakat. Penyesuaian diri ada yang bersifat normal dan ada pula yang bersifat menyimpang. Jika seorang manusia memenuhi kebutuhan dengan upaya melakukan pemecahan masalah dengan cara yang tidak wajar atau menyimpang dari norma sosial dalam masyarakat, maka orang tersebut dikatakan melakukan penyesuaian diri yang menyimpang. Sebaliknya jika manusia tersebut memenuhi kebutuhan dengan upaya memecahkan masalah dengan cara yang wajar dan dan tidak menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakat, maka orang tersebut melakukan penyesuaian diri yang normal.
Secara ilmiah, penyesuaian diri berarti upaya manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, mengatasi ketegangan, frustasi atau stress, konflik dengan memerhatikan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup. Proses tersebut melibatkan mental dan akan menghasilkan sebuah perilaku. Penyesuaian diri diklasifikasikan kedalam beberapa kelompok, pertama berdasarkan gejala masalah yang meliputi neurotik, psikotik, psikopatik, epileptik. Yang kedua, berdasarkan jenis kualitas respon yang meliputi penyesuaian yang normal dan penyesuaian yang menyimpang. Ketiga, berdasarkan jenis masalah meliputi masalah individu, masalah sosial, masalah keluarga, masalah akademik, masalah vokasional dan lain sebagainya.
Lalu adakah keterkaitan penyesuaian diri dengan pertumbuhan? Pertumbuhan adalah perubahan yang terjadi secara fisiologis sebagai hasil kematangan fungsi-fungsi fisik yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan dikemukakan oleh Werner (1957), ia mendefinisikan pertumbuhan akan selalu meningkat dengan cara yang bertahap. 

 SUMBER: Yusuf, Syamsu, LN. (2004). Mental Hygiene. Bandung:

                          Pustaka Bani Quraisy

INE LESTIANI- 13511627- 2PA01

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT

TULISAN 2

Teori kepribadian sehat ini dibagi kedalam tiga aliran besar. Pertama aliran Psikoanalisis, kedua aliran Behavioralisme, dan yang ketiga aliran Humanistik. Ketiganya mempunyai peranan yang amat sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Tentunya masing-masing aliran ini memiliki banyak perbedaan dan pengembangan. Berikut akan dijelaskan perbedaan antar ketiga aliran tersebut:
1.    Aliran Psikoanalisis
Psikoanalisis adalah aliran yang amat sangat terkenal meski mungkin tidak bisa dipahami seutuhnya. Aliran ini juga paling banyak berpengaruh tidak hanya dalam teori kepribadian sehat. Sigmund Freud adalah orang yang pertama merumuskan konsep aliran psikoanalisis ini.
Beliau adalah seorang dokter namun ia lebih tertarik untuk mendalami dunia psikologi. Oleh karena itu Freud lebih memperhatikan struktur dalam jiwa manusia.  Freud membagi pemikiran manusia ke dalam conciousness, preconciousness dan unconciousness.
Uncounciousness adalah yang paling dominan dan yang paling penting karena didalamnya terdapat pikiran-pikiran dimasa kecil manusia. Sedangkan preconciousness adalah jembatan diantara counciousness dan unconciousness karena didalamnya berisikan ingatan-ingatan bahkan ide yang dapat muncul kapan saja. Lalu counciousness adalah bagian yang secara langsung kontak dengan realitas.
Freud juga melihat manusia lahir dari tiga subsistem yang saling berinteraksi. Ketiga subsistem itu adalah id, ego dan superego. Id atau yang familiar kita sebut dengan prinsip kesenangan (pleasure principle) berisikan hawa nafsu (instink) karena menyimpan dorongan biologis manusia. Dua instink yang dominan adalah libido (seperti dorongan seksual) dan thanatos (instink kematian).  Intinya id sangat egoistis hanya berisikan dengan kesenangan-kesengan yang ada dalam diri manusia tanpa sama sekali melihat ke dalam segi realitas.
Ego (prinsip realitas) tentu berkembangnya dari id. Secara garis besar sang ego lah yang menjembatani atau menghubungkan id dengan realitas di dunia luar. Ego yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan dari apa yang ingin manusia lakukan.
Selanjutnya superego (prinsip sosial) berisikan dengan nilai-nilai sosial yang membuat sadarnya individu dengan tuntutan moral. Misalnya kita melanggar suatu nilai sosial dalam masyarakat seperti berbuat asusila. Nah sang superego yang akan menghukum ego (pengambil keputusan) dengan sebuah rasa amat sangat bersalah.
2.    Aliran Behaviorisme
John B. Watson adalah orang yang mempelopori aliran Behaviorisme. Behaviorisme berdiri sebagai reaksi atas introspeksionisme (menganalisis manusia berdasarkan laporan subjektif) dan juga berisi tentang alam bawah sadar yang tidak nampak. Behaviorisme ingin menganalisis perilaku yang tampak saja seperti yang dapat diramalkan.
Supaya mudah kita menamai aliran behaviorisme ini sebagai teori belajar. Aliran ini menganggap ketika manusia lahir tidak membawa apa-apa. Seorang manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang mereka terima sejak lahir dan juga yang paling penting dari lingkungan disekitarnya. Perilaku manusia adalah hasil dari pengalaman.
Jika lngkungan didekat manusia tersebut baik, maka akan sangat berpengaruh baik kedalam diri manusia tersebut akibatnya mereka berperilaku baik sesuai dengan norma-norma yang ada. Sebaliknya jika lingkungan didekat manusia tersebut buruk, akan berpengaruh buruk kedalam diri manusia tersebut akibatnya mereka berperilaku buruk atau melanggar norma-norma dalam masyarakat.
Kaum behaviorisme ini sangat objektif. Mereka tidak mau menerima bahkan menolak mentah-mentah subjektifitas seperti berpikir, emosi, persepsi, dan sensasi. Bandura juga mengembangkan behaviorisme dengan konsep teori belajar sosial (apa yang dilakukan manusia berdasarkan hasil peniruan orang disekitarnya). Istilah reward dan punishment (hadiah dan hukuman) sangat penting dalam aliran behaviorisme atau teori belajar. Bila seseorang sering diberi reward maka orang tersebut akan sangat senang melakukan suatu hal. Sebaliknya jika ia diberikan punishment orang tersebut akan kapok atau cenderung tidak akan melakukan suatu hal tersebut. Intinya aliran ini melihat secara kasat mata atau apa yang nampak, tanpa melihat perasaan dan pemikiran atau pendapat.
3.    Aliran Humanistik
Aliran ini muncul sekitar tahun 1940-1950an sebagai reaksi atas dua aliran sebelumnya yaitu aliran psikoanalisis dan aliran behaviorisme. Aliran ini secara umum sangat memberikan perhatian besar tehadap diri (self). Tokoh yang paling terkenal menganut parah Humanistik adalah Abraham Maslow lewat aktualisasi dirinya.
Hidup seseorang akan bermakna apabila melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang konstruktif secara sosial. Intinya adalah keunikan pada manusia, pentingnya nilai dan makna, kemampuan seseorang mengembangkan dirinya. Manusia hidup di dalam dunia yang sifatnya sangat pribadi dan pusatnya itu adalah diri mereka sendiri,
Hal tersebut disebut dengan konsep diri yang bersifat fleksibel dan sangat labil sehingga mudah berubah. Seseorang melakukan sesuatu untuk bisa meningkatkan dan mengaktualisasikan dirinya.
Berikut adalah empat ciri yang berkaitan dengan aliran Humanistik:
1.    Pusat perhatiannya pada orang yang mengalami, karena itu berfokus pada pengalaman primer sebagai perilaku manusia.
2.    Tekanan pada kualitas yang khas pada manusia seperti aktualisasi diri dan kreativitas.
3.    Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah yang akan dipelajari dan cara yang aan digunakan.
4.    Memberi perhatian penuh pada kemuliaan dan martabat manusia dan tertarik pada potensi inheren setiap individu.
Intinya kecenderungan batin manusia adalah menuju kesehatan dan keutuhan diri seperti halnya dalam kondisi yang normal seseorng berperilaku secara rasional dan konstruktif (terstruktur) dan memilih jalannya melalui aktualisasi dirinya sendiri.
         
Sumber: Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Yogyakarta  :
 Fajar Media Press
                 Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Purwokerto :
                        Stain Press
                 Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta  :
                        Kanisius

INE LESTIANI - 13511627 - 2PA01

PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL

TULISAN 1



Kesehatan mental kini telah menjadi perhatian khalayak ramai. Sasaran dalam kesehatan mental ini tentunya masyarakat umum. Tentunya telah banyak peneliti yang meneliti tentang konsep kesehatan mental ini. Dengan demikian pengertian kesehatan mental menjadi beragam. Ada yang berpendapat kesehatan mental berarti kondisi optimal baik fisik, intelektual, emosi, sepanjang hal itu sama dengan keadaan orang lain. Sebagian juga berpendapat kesehatan mental berarti terbebas dari penyakit atau cacat terutama dalam kondisi mental ataupun psikologis, dan masih banyak pendapat lainnya.
          Kesehatan mental bukanlah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, kesehatan mental ini terdiri dari banyak bidang ilmu baik yang secara langsung membidangi kesehatan ataupun tidak. Dibalik berbagai konsep kesehatan mental beberapa ahli menemukan orientasi umum dan pola wawasan mental. Salah satu yang mengembangkan orientasi umum dan pola wawasan mental ini adalah Saparinah Sadli. Beliau mengemukakan tiga macam orientasi besar dalam kesehatan mental. Pertama orientasi klasik, orientasi penyesuaian diri dan yang terakhir adalah orientasi pengembangan potensi.
Pertama beliau mengemukakan tentang orientasi klasik. Orientasi klasik menurutnya adalah “seseorang dianggap sehat apabila ia tidak mempunyai keluhan tertentu seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri atau perasaan tidak berguna yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau rasa tidak sehat, serta menggangu efisiensi kegiatan sehari-hari”. Dalam definisi ini, orientasi klasik mengemukakan orang yang sehat berarti orang yang tidak mempunyai berbagai keluhan yang berakibat sakit untuk dirinya di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tidak cepat merasa lelah, cemas, tidak percaya diri, cepat putus asa, perasaan tidak berguna dan lain sebagainya. Biasanya ranah cakupan orientasi klasik ini banyak berkembang didunia kedokteran.
          Kedua Saparinah Sadli mengemukakan, orientasi penyesuaian diri. Orientasi penyesuaian diri adalah “seseorang dianggap sehat mental bila ia mampu mengembangakan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya”. Definisi diatas berarti, orang dikatan sehat apabila ia mampu bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Terakhir beliau megemukakan tentang orientasi pengembangan potensi. Orientasi pengembangan potensi menurut beliau adalah “seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Definisi diatas berarti orang dikatakan sehat apabila ia berhasil mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan kreativitas yang ia miliki sehingga ia bisa dihargai oleh masyarakat diluar sana.
Dengan demikian kita dapat membedakan pengertian dari apa yang dimaksud dengan orientasi klasik, orientasi penyesesuaian diri dan yang terakhir orientasi pengembangan potensi.

Sumber: Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Yogyakarta  :
 Fajar Media Press
                 Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Purwokerto :
                        Stain Press
                 Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta  :
                        Kanisius

INE LESTIANI - 13511627- 2PA01

SEJARAH KESEHATAN MENTAL

TULISAN 1




Apa sih kesehatan mental? Banyak orang awam bingung ketika mendengar istilah tersebut. Tidak banyak yang mengerti tentang kesehatan mental asal-asulnya bahkan sejarahnya. Dan banyak sekali orang yang bingung mengapa kesehatan mental dipelajari seperti dalam studi psikologi. Sebagian dari mereka mungkin berpendapat bahwa kesehatan mental masuk ke dalam studi psikologi karena psikologi sendiri mempelajari tentang masalah kejiwaan, dan kejiwaan itu sendiri sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental.
          Ada benarnya pendapat tersebut karena memang benar psikologi mempelajari tentang jiwa yang erat hubungannya dengan kesehatan mental. Sejarah kesehatan mental tidak dapat dijelaskan dengan rinci seperti sejarah kedokteran. Ini disebabkan karena mental itu sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata dan setiap orang memiliki mental yang sudah pasti berbeda. Sedangkan gangguan fisik, dapat dengan mudah terlihat dari luar dan dapat terdeteksi, dicegah dan bisa diobati. Disinilah fungsi awal ilmu kedokteran berkembang. Seseorang yang terkena gangguan mental, sulit sekali untuk dilihat bahkan dari orang yang terdekat dengannya. Orang terdekatnya menganggap hal ini sebagai hal yang biasa, bahkan bukan sebagai gangguan yang berarti.
          Bagi masyarakat Indonesia umumnya, masalah kesehatan mental ini merupakan hal yang tidak dianggap bahkan disepelekan. Mengapa ini terjadi? Jawabannya sangat mudah, karena taraf pendidikan yang masih kurang atau masih rendahnya pemikiran masyarakat kita, dan membuat banyak orang tidak peka mengetahui pentingnya  kesehatan mental ini. Secara historis kesehatan mental ini terbagi didalam dua periode yang amat penting. Pertama didalam periode pra-ilmiah dan yang terakhir dalam periode ilmiah.
          Periode pra-ilmiah, terhitung sejak zaman dahulu kala masalah gangguan mental muncul didalam konsep primitif animeisme. Animeisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu didunia ini adalah pemberian dari roh halus dan dewa-dewa leluhur, roh halus dan dewa-dewa leluhur itu juga yang menguasai bumi ini.  Contohnya orang primitif menggangap panen yang melimpah adalah buah hasil roh dan dewa leluhur yang senang kepadanya. Sedangkan gangguan mental terjadi karena roh dan dewa leluhur marah. Untuk mencegah kemarahan itu terjadi, orang primitif sengaja membuat sesajen kesukaan roh dan leluhur tersebut. Tidak hanya sesajen mereka juga tak segan untuk memberikan korban.
          Pada zaman Hipocrates (460-467) terjadi perubahan sikap terhadap tradisi animeisme. Beliau beserta pengikutnya mengembangkan padangan yang lebih revolusioner dalam pengobatan. Pendekatan yang mereka pakai adalah pendekatan naturalisme. Naturalisme adalah aliran yang menganggap gangguan mental dan fisik sebagai pengaruh dari alam. Hipocrates dan para pengikutnya sama sekali tidak percaya dengan adanya roh dan dewa leluhur. Bagi mereka roh dan dewa leluhur yang telah meninggal tidak mungkin ada dibumi lagi.
          Philipe Pinel (1745-1826) seorang dokter dari perancis, berpendapat gangguan mental dapat dipecahkan oleh filsafat politik dan sosial. Beliau juga dikenal sebagai penggagas Rumah Sakit Jiwa. Para pasien yang terjangkiti gangguan mental yang biasanya sering melukai orang lain bahkan menyakiti diri mereka sendiri, dikurung didalam rumah sakit jiwa lalu diikat ditempat tidur lama kelamaan akan tenang. Mereka berhasil membuat dirinya untuk tidak melukai dirinya sendiri ataupun diri orang lain. Dan mereka juga sudah bisa untuk dilepas dan dibiarkan untuk bergaul dengan masyarakat sekitarnya.
          Periode ilmiah atau yang familiar kita kenal dengan era modern. Disini terjadi perubahan sikap dan sudut pandang dari animeisme (irrasional) kedalam sikap dan sudut pandang yang rasional (ilmiah). periode ini juga dikenal dengan dengan awal mulanya berkembang psikologi abnormal dan psikiatri di negara Amerika Serikat pada tahun 1783. Perkembangan psikologi abnormal dan psikiatri ini besar pengaruhnya pada kelahiran kesehatan mental. Kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran, dan inpirasi para ahli (Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers). Keduanya banyak sekali mendedikasikan dirinya kepada pencegahan gangguan mental.
          Pada tahun 1909 gerakan kesehatan mental secara formal lahir. Dalam dekade 1900-1909 beberapa organisasi kesehatan mental didirikan. Pertama lahirlah ASHA (American Social Hygiene Association) dan American Federation for Sex Hygiene. Kelahiran organisasi ini adalah jasa dari Clifford Whittingham Beers (1876-1943), beliau dinobatkan sebagai “the founder of mental hygiene movement”. Karena pengalamannya yang cukup luas dalam pencegahan dan pengobatan ganguan mental dengan carayang manusiawi.
          Pada tanggal 19 Februari 1909 didirikan National Committe Siciety For Mental Hygiene yang salah satu tujuan organisasi ini adalah melindungi esehatan mental masyarakat. Dan tepatnya pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental bertambah dengan berdirinya National Assosiation For Mental Health. Dengan lahirnya organisasi ini diharapkan seluruh belahan dunia manapun dapat mencegah serta mengobati berbagai macam gangguan-gangguan mental.

Sumber: Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Yogyakarta  :
 Fajar Media Press
                 Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Purwokerto :
                        Stain Press
                 Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta  :
                        Kanisius

INE LESTIANI - 13511627 - 2PA01


Rabu, 27 Maret 2013

KONSEP SEHAT

TULISAN 1


          

Manusia terlahir sebagai makhluk hidup yang memiliki akal beserta pikiran. Seorang makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lainnya tentunya memiliki banyak persamaan. Seperti lahir, tumbuh, berkembang, ceria-murung, normal-tidak normal, sehat-sakit, dan akhirnya menuju pada kematian. Manusia adalah makhluk hidup utama dimuka bumi ini. Mereka senang sekali untuk menganalisa, membicarakan, bahkan melakukan sesuatu yang akan menguntungkan diri mereka sendiri. Segala sesuatu yang ada didalam dunia ini adalah buah tangan dari manusia. Baik itu teknologi maupun budaya itu semua dikembangkan oleh makhluk yang paling sempurna yaitu manusia.
          Lalu apa sih yang dimaksud dengan sehat? Sehat menurut orang awam berarti kebalikannya dari sakit. Sebuah kondisi dimana jika dilihat secara fisik dan jiwa seseorang seimbang. Dengan kata lain, jika jiwa seseorang tersebut sakit (misalnya stress) akan sangat berpengaruh sekali ke fisik orang tersebut. Kebalikannya bila fisik seseorang tersebut mengalami masalah (misalnya cacat) tentu sangat berpengaruh untuk kejiwaan orang tersebut.
          Secara garis besar fisik dan jiwa berarti penting untuk kata sehat. Tidak ada satupun manusia yang bisa hidup sehat tanpa keadaan fisik dan jiwa yang stabil, dan saling melengkapi satu sama lain. Misalnya ada seseorang yang secara fisik ia sehat merasa tidak sakit. Tapi dalam kenyataanya hatinya sangat gelisah, tidak pernah tenang, dan tidak bisa tidur dengan tenang. Nah orang tersebut tidak bisa dikatakan sehat, orang tersebut sakit jiwanya. Darimana kita mengetahui orang tersebut sakit jiwanya? Seseorang yang tidak bisa tenang atau tidur dengan lelap seperti orang pada umumnya biasanya memiliki sebuah pikiran yang tidak sengaja ia pikirkan terus menerus. Pikiran-pikiran itulah yang membuat orang secara fisik sehat tapi jiwanya tetap sakit.
          Dalam bahasa sehari-hari kita mengambil makna istilah sehat wal afiat sebagai keadaan yang optimal, stabil jiwa dan fisiknya (raga). Kata sehat ini sendiri adalah makna dari bahasa arab yang diambil untuk diterjemahkan sebagai kata bahasa indonesia. Sehat mendekat dengan istilah fungsi, sedangkan afiat mendekat pada kesesuaian dari fungsi tersebut. Kaki yang sehat adalah kaki yang digunakan untuk berjalan ketempat-tempat yang baik dan semestinya. Sedangakan kaki yang afiat adalah kaki yang tidak digunakan untuk berjalan ke tempat yang dilarang seperti tempat maksiat.
          Lalu menurut definisi dari WHO (world health organization) sehat adalah keadaan sempurna baik fisik maupun mental tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Intinya menurut berbagai pengertian dari konsep sehat diatas tergantung kita mengambil arti yang dapat dipahami dan dijalankan untuk diri kita sendiri. Semua pengertian sehat diatas benar. Sehat adalah kondisi dimana seluruh bagian dari manusia dapat bekerjasama atau berfungsi dengan baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Sumber: Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Yogyakarta  :
 Fajar Media Press
                 Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Purwokerto :
                        Stain Press
                 Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta  :
                        Kanisius

INE LESTIANI - 2PA01 - 13511627