Sabtu, 01 Juni 2013

Tulisan 2 – Hubungan Interpersonal

Sebagai makhluk tuhan dengan kodrat disebut makhluk sosial, manusia selalu saja membutuhkan kehadiran bahkan bantuan orang lain dalam menjalani kehidupan. Menjalin hubungan yang baik dengan kerabat menjadi salah satu kebutuhan bagi setiap manusia dalam menjalin hubungan interpersonal. Menurut anda, apakah pengertian hubungan interpersonal? Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan “Ketertarikan interpersonal (Interpersonal Attraction)”. Menurut Baron dan Byrne (2006), ”Interpersonal Attraction” adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, dimana penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, dari strong liking sampai dengan strong dislike atau dari yang biasa menjadi luar biasa.

         Hubungan interpersonal, menurut saya sangatlah berguna tanpa adanya hubungan ini kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu lewat hubungan interpersonal jugalah banyak informasi yang akan kita dapatkan, bukan sekedar itu hubungan interpersonal yang baik juga akan membawa peluang pekerjaan bagi kita. Karena interpesonaal yang baik adalah salah satu kriteria utama perekrutan seorang calon pegawai baik negeri maupun swasta. “Hubungan Interpersonal sangat penting, bahkan sangat menentukan kesehatan mental seseorang. Jika seseorang tak berhasil mengembangkan hubungan interpersonalnya secara sehat, ia juga akan gagal berkembang menjadi pribadi yang sehat” ( Sumber : Widyarini, Nilam. 2009. Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta : Elex Media).


         Berbicara mengenai hubungan interpersonal  tentunya tidak terlepas dari beberapa model hubungan interpersonal itu sendiri. “menurut model ini, hubungan antar pribadi yang tidak memuaskan merupakan sumber utama penyebab tingkah laku maladaptive” (Sumber : Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius). Apa arti maladaftif?  Maladaptif adalah individu yang tidak bisa menyessesuaikan diri atau gagal dalam menyesuaikan diri, baik dengan orang lain ataupun dengan lingkungannya.

a)    Model-model hubungan interpersonal

  1.     Pertukaran Sosial (Social Exchange)
Menurut teori ini manusia saling menjalin hubungan dengan tujuan memuaskan kebutuhan masing-masing. Setiap orang mengharapakan sesuatu dari hubungannya dengan orang lain. Kalau ia memiliki cukup kebebasan ia akan memutuskan hubungan tersebut, sebaliknya, kalau ia tidak dapat keluar dari situasi hubungan tidak adil yang menimbulkan penderitaan, ia akan terjatuh masuk kedalam psikopatologi.
(Sumber : Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius)
2.    Model peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Kemampuan memerankan peranan tertentu, serta mampu menghindari konflik peranan bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai peranan yang kontradiktif.
3.    Model Permainan
Hubungan interpersonal sebagai ajang menampilkan salah satu aspek kepribadian individu (orang tua, dewasa, anak). Dikenai sebagai analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua). Lalu, kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional). Terakhir, kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
4.    Model Interaksional
Hubungan interpersonal merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat struktural, integrali dan medan yang masing-masing saling terkait. Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.
(Sumber : http://arsip.uii.ac.id/files/2012/08/05.2-bab-2137.pdf )

a)    Cara memulai hubungan
Pembentukan
Pembentukan kesan dan dan ketertarikan interpersonal dalam memulai hubungan. Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal :
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya atau lawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya. Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori (informasi demografis, sikap dan pendapat (tentang orang atau objek), rencana yang akan datang, kepribadian, perilaku pada masa lalu, orang lain, terakhir hobi dan minat).
Peneguhan Hubungan
Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, maka diperlukantindakan-tindakan untuk memelihara keseimbangan. Dalam memelihara keseimbangan terdapat empat faktor, yaitu  keakraban, keakraban ialah pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan  komunikator. Control berarti kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut. Respon yang tepat atau feedback (umpan balik) yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat. Terakhir, nada emosional yang tepat atau keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung.
Hubungan interpersonal akan terperlihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan. Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Faktor ketiga adalah ketepatan respon. Hubungan interpersonal berdasarkan jumlah individu yang terlibat, dibagi menjadi 2, yaitu hubungan diad dan hubungan triad. Hubungan diad merupakan hubungan atara dua individu. Sedangkan hubungan triad merupakan hubungan antara tiga orang. Hubungan interpersonal berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, dibagi menjadi 2, yaitu hubungan tugas dan hubungan sosial.
Hubungan tugas merupakan sebuah hubungan yang terbentuk karena tujuan menyelesaikan sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh individu sendirian. Sedangkan hubungan sosial merupakan hubungan yang tidak terbentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu. Hubungan interpersonal berdasarkan jangka waktu juga dibagi menjadi 2, yaitu hubungan jangka pendek dan hubungan jangka panjang. Hubungan jangka pendek merupakan hubungan yang hanya berlangsung sebentar. Sedangkan hubungan jangka panjang berlangsung dalam waktu yang lama.
Selain ketiga jenis hubungan interpersonal yang sudah dijelaskan di atas, masih terdapat satu lagi jenis hubungan interpersonal yang didasarkan atas tingkat kedalaman atau keintiman, yaitu hubungan biasa dan hubungan akrab atau intim. Hubungan biasa merupakan hubungan yang sama sekali tidak dalam atau impersonal atau ritual. Sedangkan hubungan akrab atau intim ditandai dengan penyingkapan diri (self-disclosure).


c)    Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Intimasi juga adalah salah satu atribut yang paling menonjol dalam suatu hubungan intim daripada hubungan pribadi yang lain. Keintiman (intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasangan dalam hubungan yang dekat (intim). Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy love, atau yang dikenal dengan segitiga cinta Stenberg. Apabila salah satu komponen cinta tersebut telah hilang dari satu hubungan, akan muncul rasa ketidak nyamanan antar salah satu pihak. Ini yang akan menimbulkan sebuah perpisahan pada setiap pasangan.


d)    Intimasi dan Pertumbuhan
Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik antara lain ialah berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan, menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain atau kejujuran yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Jadi, sangat penting suatu keintiman dalam menjalin hubungan. Ketika keintiman hilang, hubungan menjadi hambar. 


          
Sumber : http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/hubinterpersonal.pdf
Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius

Tulisan 1 – Penyesuaian diri dan pertumbuhan

          Sebagai masyarakat tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan istilah “penyesuaian diri”, mengapa demikian? Karena penyesuaian diri menjadi salah satu tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi anggapan pengertian antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya pasti berbeda tentang apa itu penyesuaian diri. Lalu, apakah arti penyesesuaian diri menurut anda? Disini saya akan membahas tentang beberapa konsep penyesuaian diri menurut beberapa tokoh dan dikaitkan dengan pertumbuhan.


A.   Menjelaskan konsep penyesuaian diri
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartini Kartono, 2002:56). Kemudian, Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai interaksi Anda yang kontinu dengan diri Anda sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia Anda (Calhoun dan Acocella dalam Sobur, 2003:526). Lalu, Penyesuaian diri (adjustment) atau dapat dikatakan juga sebagai adaptasi, merupakan suatu proses dimana organisme yang agak sederhana mematuhi tuntutan-tuntutan lingkungan. (Sumber : Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius). Sedangkan menurut,  Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).

 Menurut saya Penyesuaian diri dapat diartikan atau ditelaah sebagai suatu proses yang bersifat dinamis, bertujuan untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dalam diri individu agar terjadi penyesuaian hubungan yang lebih menyatu  antara diri individu tersebut dengan lingkungannya. Dengan demikian diharapkan manusia dapat membentuk suatu hubungan yang menyenangkan antara dirinya dan lingkungan barunya. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai adaptasi. Masih ingat dengan pengertian adaptasi?  Adaptasi adalah dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah, bukan hanya jasmaniah tetapi dapat memperoleh kesejahteraan  rohaniah. Selain itu dengan adaptasi juga dapat membentuk sebuah relasi atau hubungan yang memuaskan dengan tuntutan sosial dalam masyarakat. Namun belakangan pengertian adaptasi sama persis dengan penyesesuain diri sedikit dibenarkan atau diluruskan. Karena pada umumnya adaptasi lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis.  Secara konvensional juga disebutkan bahwa penyesuaian diri diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien. Dengan menjaga diri dengan hubungan antara moral, sosial, dan emosionalnya. Dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.

B.    Pertumbuhan personal
Apa sih pertumbuhan personal?  Tentunya kita sudah tidak asing, dan paham betul tentang definisi pertumbuhan. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Inilah yang dinamakan pertumbuhan. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang. Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu diantaranya  adalah faktor genetik yang menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti sikap pendiam dan temperamen, lalu faktor eksternal atau lingkungan yang mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Dari semua faktor-faktor  di atas, paling penting adalah pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat sekitar akan memberikan pertumbuhan pesat bagi suatu individu. Dengan demikian, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.
Berikut adalah konsep yang berkaitan dengan pertumbuhan personal :
1.     Penekanan pertumbuhan diri
Pertumbuhan sendiri adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat hingga dewasa (akhir hayat) pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah), yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
2.    Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa adanya variasi dalam pertumbuhan.
3.    Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.

Sumber:
Kartini Kartono, 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta
http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html
http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_ii/08410141-divie-oktaviana.ps

Selasa, 23 April 2013

Tulisan 3, kesehatan mental (tugas 2)


Coping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut. Atau mudahnya coping berarti ciri-ciri atau cara individu dalam menghadapi tekanan atau situasi menekan.  Seorang ahli medis bernama ZJ Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme coping:  “all cognitive and motor activities which a sick person employs to preserve his bodily and psychic integrity, to recover reversibly, impaired function and compensate to limit for any irreversible impairment.” (artinya: semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya, memulihkan fungsi yang rusak, dan membatasi adanya kerusakan yang tidak bisa dipulihkan).
Mekanisme coping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi baik dalam dirinya ataupun lingkungannya, serta respon terhadap situasi yang mengancam dirinya. Ini terbentuk melalui proses belajar dan mengingat, yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari dampak stressor tersebut. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi eksternal dan internal, sehingga yang berperan bukan hanya bagaimana lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu dan persepsinya masing-masing.

Pengertian dari jenis-jenis coping



Jenis-jenis coping terbagi dua, yang pertama adalah emotional focus coping dan yang kedua adalah problem focus coping. Berikut akan dijelaskan secara lebih jelas :
a.    Emotional focus Coping
Emotional focus coping digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Biasanya ini dilakukan melalui perilaku individu, seperti: penggunaan rokok, intinya bagaimana menghilangkan fakta - fakta yang tidak menyenangkan dengan melalui strategi yang kognitif. Bila individu tidak mampu  mengubah kondisi yang ‘stresfull’ atau stresss berat, individu akan cenderung untuk  mengatur emosinya.
b.    Problem focus Coping
problem focus coping digunakan untuk mengurangi stressor (penyebab-penyebab stress), individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru yang belum pernah ia lakukan. Individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila yakin akan dapat merubah situasi lebih baik lagi. Coping dibagi dua bagian, yaitu memfokuskan pada pemecahan masalah dan yang kedua memfokuskan pada emosi pribadi individu. Jenis-jenis coping yang memfokuskan pada pemecahan masalah berupa :
1.         Keaktifan diri adalah suatu tindakan yang mencoba menghilangkan atau mengelabuhi penyebab stres atau untuk memperbaiki akibat yang ditimbulkan. Jadi, individu secara aktif bias menghilangkan stress dengan melakukan sesuatu hal yang baginya menarik agar dapat merubah diri jadi lebih baik.
2.        Perencanaan adalah memikirkan tentang bagaimana mengatasi penyebab stress. Seorang individu pasti mempunyai rencana sebelum melakukan sesuatu, agar sesuatu yang ingin dilakukannya berjalan dengan baik dan terencana.
3.        Kontrol diri adalah individu membatasi keterlibatannya dalam
aktivitas persaingan dan tidak terburu-buru untuk mencari alternative lainatau cara lain  untuk mengatasi stressnya.
4.        Mencari dukungan social adalah mencari bantuan seperti informasi, nasihat-nasihat orang yang lebih paham dengan suatu masalah, dan mencari suatu motivasi.
Lalu ada coping yang memfokuskan pada emosi, yaitu berupa :
1.  Mengingkari adalah suatu tindakan atau pengingkaran terhadap suatu masalah. Misalnya kita punya janji lalu kita melupakannya.
2. Penerimaan diri, adalah suatu situasi yang penuh dengan tekanan sehingga keadaan ini memaksanya untuk mengatasi masalah tersebut. Misalnya kita menerima apapun kondisi yang kita alami dengan lapang dada dan berserah diri pada yang diatas.
3.  Religius, adalah sikap individu untuk menenangkan dan menyelesaikan masalah-masalah secara keagamaan. Misalnya dengan mengikuti acara-acara keagamaan misalnya pengajian agar hidup kita menjadi tenang, tentram dan damai.
Jenis-Jenis Coping yang Konstruktif dan Positif



a. coping yang konstruktif
Pertama adalah escape, escape adala usaha untuk menghilangkan stress dengan melarikan diri dari masalah dan beralih pada hal-hal yang tidak baik, seperti mabuk-mabukan. Kedua adalah accepteance. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi yang dapat memecahkan masalah, maka lebih memilih pasrah pada yang terjadi dan menerimanya dengan lapang dada. Ketiga adalah avoidance. Avoidance adalah individu berusaha menyanggah dan mengingkari serta melupakan masalah-masalah yang ada pada dirinya. Dengan mencari suatu hal baru. Terakhir adalah avoidant coping. Avoidant coping adalah strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stress dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stress.
b.    Coping yang positif
Pertama adalah active coping, ini adalah strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stress.intinya individu megubah pandangan suatu stressnya dengan sebuah pandangan baru yang lebih bermakna. Kedua adalah problem solving focused coping, ini adalah individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk mehilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stress. Misalnya dengan memita bantuan orang lain. Ketiga adalah distancing, ini adalah usaha untuk menghindari permasalahan dan menutupinya dengan pandangan yang positif dan menganggap sepele suatu masalah. Keempat adalah planful problem solving, ini adalah individu membentuk suatu strategi dan perencanaan menghilangkan dan mengatasi stress dengan melibatkan tindakan yang teliti, hati-hati, bertahap, dan bersifat analitis. Kelima adalah positive reappraisal ini adalah usaha untuk mencari makna positif dari permasalahan dengan pengembangan diri dan melibatkan hal-hal religi atau keagamaan. Keenam adalah self control atau control diri, ini adalah suatu bentuk dalam penyelesaian masalah dengan cara menahan diri, mengatur perasaan, tidak ceroboh mengambil suatu tindakan. Ketujuh adalah emotion focused coping, ini berarti melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam penyesuaian diri dengan dampak yang ditimbulkan oleh kondisi yang penuh tekanan. Kedelapan adalah seeking social support, ini berarti suatu cara yang dilakukan individu dalam menghadapi masalah dengan cara mencari dukungan sosial pada keluarga atau lingkungan sekitar, berupa perhatian atau sebuah kasih sayang. Dan yang terakhir adalah positive reinterpretation, ini berarti respon dari individu dengan cara merubah dan mengembangkan dalam kepribadiannya atau mencoba mengambil pandangan positif (lebih bermakna) dari sebuah masalah.
Sumber:
Basuki, S. A.M Heru.2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-dyasdindan-5184-3-bab2.pdf

Tulisan 2, Kesehatan Mental (tugas 2)


Pengertian Stress



Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Arti penting stress
Istilah stres ditemukan oleh Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stress dapat digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang diakibatkan oleh berbagai faktor psikologis, faktor fisik atau kombinasi kedua faktor tersebut.
Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan kerena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Sedangkan menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Stress tidak hanya kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya (Prawitasari, 1989).
Efek-efek Stress menurut Hans Selye
Menurut Hans Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal 1930 tidak semua jenis stres bersifat merugikan. Berikut adalah beberapa efek dari stress:
1.     Local Adaptation Stres.
Local Adaptation Stress adalah ketika tubuh menghasilkan banyak respon setempat terhadap stres. Respon setempat ini contohnya seperti pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dan masih banyak lagi. Responnya berlangsung dalam jangka yang sangat pendek. Karakteristik dari LAS adalah respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system, respon bersifat adaptif sehingga diperlukan stresor untuk menstimulasinya, respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus, dan respon bersifat restorative.
2.     General Adaptation Syndrome
General Adaptation Syndrome adalah istilah penting dari Hans Selye yang ditemukan saat membahas tentang stress. Menurutnya ketika organisme berhadapan dengan stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk melakukan tindakan. Usaha ini diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikkan aktivitas sistem syaraf simpatetik. Reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan-perubahan akibat stress itulah yang disebut sebagai General Adaption Syndrome.
GAS terdiri dalam tiga fase :
a. Alarm reaction (reaksi peringatan) pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor(perubahan) dengan baik. Apabila ada rasa takut atau cemas atau khawatir tubuh akan mengeluarkan adrenalin, hormon yang mempercepat katabolisme untuk menghasilkan energi untuk persiapan menghadapi bahaya mengacam. Ditambah dengan denyut jantung bertambah dan otot berkontraksi.
b. The stage of resistance (reaksi pertahanan). Reaksi terhadap stressor sudah mencapai atau melampaui tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala-gejala psikis dan somatis. Respon ini disebut juga coping mechanism. Coping berarti kegiatan menghadapi masalah, misalnya kecewa diatasi dengan humor, rasa tidak senang dihadapi dengan ramah dan sebagainya
c. Stage of exhaustion (reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala psikosomatik tampak dengan jelas. Gejala psikosomatis antara lain gangguan penceranaan, mual, diare, gatal-gatal, impotensi, exim, dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Kadang muncul gangguan tidak mau makan atau terlalu banyak makan.
Dan Hans Selye membagi stress kedalam 3 tingkatan :
a. Eustress adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
b. Distress merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi diatasi
c. Optimal stress atau Neustress adalah stress yang berada antara eustress dan distres, merupakan respon stress yang menekan namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah, berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.
Stres dikatakan menjadi sebuah faktor penunjang untuk produksi suatu penyakit tertentu, atau mungkin menjadi penyebab respon perilaku negatif, seperti merokok, minum alkohol dan penyalahgunaan narkoba yang semuanya dapat membuat kita rentan terhadap penyakit. Hal buruk dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan tubuh kita menjadi kurang tahan terhadap sejumlah masalah kesehatan.
Efek fisiologis dari stress menurut Hans Selye, pada tubuh diawali dari nyeri dada, insomnia atau susah tid, nyeri kepala ringan sampai sedang, hipertensi atau tekanan darah tinggi dan menyebabkan nyeri tukak.
Faktor-faktor social dan individual yang menjadi penyebab stress
a.    Faktor sosial
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari-hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stres. Dukungan sosial mencakup dukungan emosional, seperti rasa dikasihi dan disayangi. Lalu, dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa. Selanjutnya, dukungan informasi misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu.
b.     Faktor Individual
Biasanya seseorang menjumpai stresor atau penyebab stress didalam lingkungannya. Nah, ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu. Yang pertama adaah berapa lamanya (duration) seseorang harus menghadapi stressor. Dan yang kedua adalah seberapa terduganya stresor itu (predictability).
Tipe-tipe Stress Psikologis
Manusia berespon terhadap stres secara keseluruhan, sehingga kita tidak dapat memisahkan secara sangat tegas bentuk-bentuk stres. Stres biologis, misalnya adanya infeksi kuman dalam tubuh, akan juga berpengaruh terhadap emosi kita. Tak hanya itu, suatu stress psikologis contohnya kegagalan dalam mengikuti ujian, sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan fisik seseorang. Meski demikian, dapat disebutkan beberapa tipe stres psikologis yang terjadi secara bersamaan diantaranya adalah :
a.    Tekanan
Kita dapat mengalami tekanan dari dalam maupun luar diri, atau keduanya. Ambisi personal bersumber dari dalam, tetapi kadang dikuatkan oleh harapan-harapan dari pihak di luar diri.
b.    Konflik
Konflik terjadi ketika kita berada di bawah tekanan untuk berespon simultan terhadap dua atau lebih kekuatan-kekuatan yang berlawanan. Konflik dibagi kedalam tiga tipe :
1. Konflik menjauh-menjauh : individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama tidak disukai. Misalnya, seorang pelajar yang sangat malas belajar, tetapi juga enggan mendapat nilai ujian yang sangat jelek, apalagi sampai tidak naik kelas.
2. Konflik mendekat-mendekat : individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama diinginkannya. Misalnya, ada suatu acara seminar yang sangat menarik untuk diikuti, tetapi pada saat bersamaan kita sedang mengikuti pelajaran dikelas yang sangat kita sukai.
3. Konflik mendekat-menjauh: terjadi ketika individu terjerat dalam situasi di mana ia tertarik sekaligus ingin menghindar dari situasi tertentu. Ini adalah bentuk konflik yang paling sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus lebih sulit diselesaikan. Misalnya ketika pasangan yang baru menikah berpikir tentang apakah akan segera memiliki anak atau tidak? Memiliki anak sangat diinginkan karena pasangan dapat dikatakan sempurna, dan dapat belajar menjadi orang dewasa yang sungguh-sungguh bertanggung jawab atas bayi yang sepenuhnya tak berdaya. Di sisi lain, ada tuntutan financial (uang) dan waktu, kemungkinan kehadiran bayi akan mengganggu relasi suami-istri karena mereka sibuk dengan bekerja.
c.    Frustrasi.
Frustrasi terjadi ketika motif atau tujuan kita mengalami hambatan dalam pencapaiannya. Contohnya bila kita telah berjuang keras dalam belajar dan gagal mendapat nilai baik, kita akan mengalami frustrasi. Atau bila kita dalam keadaan terdesak dan terburu-buru, kemudian terlambat datang kesuatu acara yang penting (misalnya karena jalanan macet) kita juga dapat merasa frustrasi. Bias juga, bila kita sangat memerlukan sesuatu (misalnya memerlukan uang untuk bayar kuliah), dan sesuatu itu tidak dapat diperoleh tentu kita juga akan mengalami frustrasi.
d.    Kecemasan
Gelisah, khawatir, takut, phobia dan perasaan semacamnya itu merupakan suatu tanda atau sinyal seseorang mengalami suatu kecemasan. Biasanya kecemasan di timbulkan karena adanya rasa kurang nyaman, rasa tidak aman atau merasa terancam pada dirinya. Contohnya cemas ketika akan melakukan presentasi tugas kelompok dikelas.




Pendekatan problem solving terhadap stress
Strategi coping yang spontan menghadapi stress :
1.    Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah
Menurut Lazarus penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
b. Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
2.    Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar:
a.    strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
b.    strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stress
3.    Berpikir positif dan self-efficacy
Menurut Bandura self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif .
4.    Sistem dukungan
Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar, keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain terutama dengan keluarga dan teman secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

sumber: 
Rochman, K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto. Fajar Media Press